Berempati pada korban…
Solo, 31 Oktober 2008
Solo, 31 Oktober 2008
Namanya memang keren. Sinetron religius. Tapi jangan harap kita akan mendapatkan pesan-pesan religius yang menyentuh batin kita. Alih-alih justru penodaan nilai-nilai agama yang kita dapatkan. Boom sinetron religi di TV sejatinya sudah mulai berkurang. Namun di beberapa stasiun TV sinetron-sinetron yang mengangkat tema “agama” ini masih sering kita temukan. Tren sinetron religi mencapai puncaknya setelah stasiun-stasiun TV mulai meninggalkan tayangan-tayangan perburuan hantu, setan, kuntilanak, genderuwo, dsb. Saat itu hampir semua channel TV menayangkan sinetron religius. Judulnya pun sungguh islami; rahasia ilahi, misteri ilahi, hikmah, pintu hidayah. Konon sebagian diantaranya diklaim mengangkat kisah-kisah nyata.
Awalnya saya menyambut baik hadirnya tayangan-tayangan religi itu, meski saya sadar apapun kemasan yang dibuat pengelola TV, ujung-ujungnya mengejar rating pemirsa. Rating = iklan, dan Iklan = duit, adalah prinsip yang sering dipegang para pengelola TV. Namun setelah mengamati tayangan-tayangan itu saya mulai muak. Tidak jarang pemirsa disuguhi tontonan yang lebih kental unsur mistiknya ketimbang pesan-pesan moral agama. Sering kita “dipaksa” menikmati tayangan yang bersifat pembodohan. Sebagian diantaranya menampilkan secara fulgar adegan sadisme, kekerasan, dan dalam batas-batas tertentu, pornografi. Meski dalam konteks berbeda, tayangan sinetron (yang katanya) religius umumnya beralur sama. Biasanya digambarkan ada suami atau istri yang jahat. Ketika suaminya yang jahat, istrinya digambarkan baik dan sabar. Atau ada orangtua yang sangat baik mempunyai anak yang bermoral bejat. Begitu sebaliknya. Ujung-ujungnya si jahat kualat menjelang ajal. Entah sakit kulit yang menjijikkan, kulitnya melepuh, menghitam, keluar air dari seluruh tubuhnya, dan tersiksa saat sakaratul maut. Setelah didoakan ustad, barulah mereka bisa meninggal dengan tenang. Atau pada kasus lain si jahat setelah meninggal mayitnya dikerubuti belatung, singgat, ular, ulat, dan binatang-binatang menjijikkan lainnya.
Petuah-petuah…
Di sela-sela atau diakhir tayangan biasanya muncul ustad atau ustadzah yang memberi petuah-petuah agama tentang tayangan-tayangan tersebut. Mungkin karena kekeringan ide, belakangan cerita-cerita sinetron religius diangkat dari berita-berita di media massa. Seperti kasus munculnya kawat-kawat aneh di perut, cerita para pengoplos BBM, atau kasus penjual daging yang memanfaatkan daging-daging sampah. Mungkin para pembuat sinetron ingin menyampaikan pesan bahwa kejahatan dalam bentuk apapun akan berakibat buruk bagi si pelaku. Sayangnya penggambaran cerita yang serampangan, asal kena, dan kadang-kadang ngawur malah merusak pesan yang ingin disampaikan. Dalam batas-batas tertentu naskah cerita justru menunjukkan kedangkalan para pembuat sinetron dalam memahami agama. Alur cerita bukan memberikan pencerahan pemirsa melainkan malaj meredusir keagungan agama itu sendiri. Agama seolah identik dengan hal-hal aneh yang cenderung mistik. Tasbih para ustad bisa berubah wujud, bacaan ayat-ayat suci seolah sekadar pengusir hantu pocong, pengusir belatung, singgat, ular, dsb.
Tayangan berjudul “Raja Sawer” di TPI beberapa hari lalu sungguh membikin saya geleng-geleng kepala. Sinetron ini menggambarkan seorang suami yang jahat. Dia tukang mabuk, tukang sawer di acara tayub. Si suami ini juga punya usaha menjadi penimbun BBM. Dokumen-dokumen perusahaannya semua diatasnamakan istrinya, termasuk dalam menandatangani surat-menyurat. Saat usahanya digerebek polisi, istrinya yang rajin beribadah itu justru yang ditahan. Saat di kantor polisi, dua orang anaknya memohon ibunya berkata apa adanya kepada petugas, bahwa usahanya itu adalah ulah bapaknya. Bapaknyalah yang harus dihukum. Apa kata sang Ibu?. “Tidak nak. Bagaimanapun bapakmu itu kepala rumah tangga. Dan melindungi suami yang jahat adalah bagian dari ibadah, sebagai wujud ketaatan istri pada suami.” Yah..sebuah pesan agama yang bertentangan dengan akal sehat. Melindungi suami jahat kok ibadah…Wajar jika hingga Desember 2007, dari 1126 aduan yang masuk ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), tayangan religi dan mistik menempati jumlah terbesar setelah pornografi dan tayangan kekerasan.
Tanpa mengesampingkan tayangan religi yang mencerdaskan, perlu kiranya para pengelola TV untuk merenung. Jangan hanya karena mengejar uang, Anda mengorbankan jutaan generasi masa depan. Jangan hanya karena mengejar rating, kau jadikan agama sekadar bahan jualan. Jika Anda mau berpikir, masih terbuka peluang berkreasi secara cerdas tanpa mengorbankan kesucian agama…
Solo, 25 Oktober 2008
Ini sekadar cerita konyol kawan sekantor saya sewaktu nonton Laskar Pelangi. Lumayan untuk obat puyeng di tengah kesumpekan hidup. Kisah ini sudah dimuat di Harian SOLOPOS edisi Sabtu (11/10). Nama pelaku saya samarkan :
Film Laskar Pelangi yang lagi diputar di gedung-gedung bioskop bisa menyihir siapa saja. Orang yang tak biasa nonton gambar hidup pun ikut-ikutan tertarik. Tak terkecuali Lady Cempluk, gadis manis yang mengaku terakhir nonton film 10 tahun lalu. Apalagi untuk urusan bayar tiket sudah ditanggung temannya, Jon Koplo, yang juga ikut nonton bareng bersama teman-temanya.Hujan deras yang mengguyur Kota Solo Rabu 7 Oktober malam itu tak dihiraukannya. Bak pahlawan mau maju perang Lady Cempluk bersama kawan-kawannya tancap gas menuju gedung film di kompleks pusat perbelanjaan besar di Solo.
Sampai di lokasi, film belum diputar. Setelah clingak-clinguk beberapa saat, Cempluk dan rombongan menemukan tempat duduknya. Sesaat kemudian tiba-tiba mak pet…! ruangan peteng ndhedhet setelah lampu dimatikan. Lady Cempluk kaget mak jenggirat. Tanpa diduga dia berteriak keras, “Lho, kok gelap sih…?!”Sontak teriakan banter tur cetha yang keluar dari mulut Cempluk itu menjadi pusat perhatian penonton lainnya.”Kalau takut gelap jangan nonton film, Mbak!” celetuk seorang penonton. Jon Koplo yang duduk di sampingnya cuma bisa cengar-cengir ikut menahan malu. Padahal jika dilihat dari penampilannya, Cempluk sebenarnya bukan tipe orang kampungan. Dia Sarjana Teknik lulusan perguruan tinggi markotop di Kota Bandung. Bahasa Inggrisnya cas-cis-cus. Bahkan sekarang dia bekerja di bagian riset pada sebuah perusahaan koran besar Solo. Hebat kan? Tapi kalau menyangkut soal nonton film, aduh maaf ya, dia memang rada-rada ndesit.Alhasil, kisah lucu ini menjadi bahan pembicaraan orang-orang sekantor.
“Oalah Pluk… Pluk. Di mana-mana yang namanya bioskop pasti gelap saat film diputar,” serang kawan-kawannya. Tapi dasar Cempluk, kepepet pun dia tetap ngeyel, “Eh, dulu waktu aku nonton itu terang benderang kok,” kilahnya tanpa dosa yang disambut gerrr orang sekantor.”Wis ta Pluk, sudah kalah kok masih bersilat lidah, kayak anggota Dewan saja!” sergah Tom Gembus yang memang dikenal jago ngeledek. Kali ini Cempluk tak berkutik. Pipinya memerah menahan malu…
Solo, 10 Oktober 2008
Ini sekadar cerita konyol kawan sekantor saya sewaktu nonton Laskar Pelangi. Lumayan untuk obat puyeng di tengah kesumpekan hidup. Kisah ini sudah dimuat di Harian SOLOPOS edisi Sabtu (11/10). Nama pelaku saya samarkan :
Film Laskar Pelangi yang lagi diputar di gedung-gedung bioskop bisa menyihir siapa saja. Orang yang tak biasa nonton gambar hidup pun ikut-ikutan tertarik. Tak terkecuali Lady Cempluk, gadis manis yang mengaku terakhir nonton film 10 tahun lalu. Apalagi untuk urusan bayar tiket sudah ditanggung temannya, Jon Koplo, yang juga ikut nonton bareng bersama teman-temanya.Hujan deras yang mengguyur Kota Solo Rabu 7 Oktober malam itu tak dihiraukannya. Bak pahlawan mau maju perang Lady Cempluk bersama kawan-kawannya tancap gas menuju gedung film di kompleks pusat perbelanjaan besar di Solo.
Sampai di lokasi, film belum diputar. Setelah clingak-clinguk beberapa saat, Cempluk dan rombongan menemukan tempat duduknya. Sesaat kemudian tiba-tiba mak pet…! ruangan peteng ndhedhet setelah lampu dimatikan. Lady Cempluk kaget mak jenggirat. Tanpa diduga dia berteriak keras, “Lho, kok gelap sih…?!”Sontak teriakan banter tur cetha yang keluar dari mulut Cempluk itu menjadi pusat perhatian penonton lainnya.”Kalau takut gelap jangan nonton film, Mbak!” celetuk seorang penonton. Jon Koplo yang duduk di sampingnya cuma bisa cengar-cengir ikut menahan malu. Padahal jika dilihat dari penampilannya, Cempluk sebenarnya bukan tipe orang kampungan. Dia Sarjana Teknik lulusan perguruan tinggi markotop di Kota Bandung. Bahasa Inggrisnya cas-cis-cus. Bahkan sekarang dia bekerja di bagian riset pada sebuah perusahaan koran besar Solo. Hebat kan? Tapi kalau menyangkut soal nonton film, aduh maaf ya, dia memang rada-rada ndesit.Alhasil, kisah lucu ini menjadi bahan pembicaraan orang-orang sekantor.
“Oalah Pluk… Pluk. Di mana-mana yang namanya bioskop pasti gelap saat film diputar,” serang kawan-kawannya. Tapi dasar Cempluk, kepepet pun dia tetap ngeyel, “Eh, dulu waktu aku nonton itu terang benderang kok,” kilahnya tanpa dosa yang disambut gerrr orang sekantor.”Wis ta Pluk, sudah kalah kok masih bersilat lidah, kayak anggota Dewan saja!” sergah Tom Gembus yang memang dikenal jago ngeledek. Kali ini Cempluk tak berkutik. Pipinya memerah menahan malu…
Solo, 10 Oktober 2008
Membaca blog tetangga yang mengulas soal kissing, saya jadi terdorong mem-posting sesuatu yang tidak jauh dengan soal cium-mencium, yakni soal hubungan suami istri. Konon katanya…sekali lagi…konon katanya, menurut para oknum pelaku, kissing dan hubungan suami istri seperti dua sisi mata uang. Bisa dibedakan tapi tapi tak bisa dipisah. Dalam terminologi agama, hubungan suami istri menjadi bagian dari ibadah, sunnah nabi, dan menjadi menu wajib bagi pasangan yang sudah terikat ijab kabul. Malah jika salah satu pasangan tidak bisa melakukan ”ibadah” yang satu ini, sah untuk dicerai. “Sudah enak, dapat pahala lagi,” begitu kata teman saya. Sudah banyak diulas keutamaan hubungan suami istri. Dari berbagai ulasan, ada satu anekdot (saya tidak tahu persis, apakah ini berasal dari hadis atau bukan karena saya belum pernah menemukan) yang menarik perhatian saya. Bahwa keutamaan hubungan suami istri sangat besar, pahalanya setara dengan membunuh tujuh orang Yahudi.
Mengapa membunuh Yahudi? tempo dulu bangsa Yahudi dikenal sangat jahat. Dalam kitab suci yang saya yakini, penggambaran kejahatan itu memang demikian adanya. Sehingga mereka pantas dibinasakan. Tentu saja makna membunuh Yahudi ini tidak bisa telan mentah-mentah dalam konteks sekarang. Realitas sudah berubah. Kalau sekarang Anda membunuh orang Yahudi tentu akan ditangkap polisi. Terkait keutamaan “membunuh” Yahudi itu, ada cerita menarik. Di suatu desa hidup sepasang pengantin baru. Sebagai pasangan yang baru menikah, tentu mereka ingin mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Pada malam pertama yang sangat indah, suami-istri itu pun “beribadah” sebagaimana yang diajarkan agama. Selesai berbuat, suami-istri itu tampak bahagia. “Alhamdulillah…kita berhasil berhasil ‘membunuh’ 7 orang Yahudi,” ujarnya penuh rasa syukur. Sang suami agaknya tidak puas kalau cuma “membunuh” 7 Yahudi. “Masak sih cuma tujuh Yahudi, tambah dong biar jadi empat belas,” rayunya pada sang istri. Sebagai istri yang “taat”, sang istri pun tidak bisa menolak. Setelah terkumpul 14 poin, lagi-lagi sang suami minta tambah lagi. “14 Orang Yahudi?, kurang dong sayang… ayo tambah lagi biar jadi 21. Ntar pahalanya makin banyak lho,” rayunya bak lelaki buaya darat. Lagi-lagi sang istri tak bisa mengelak. Berhasil “membunuh” 21 Yahudi, tak juga membuat sang suami merasa cukup.
Suami perkasa ini terus-menerus minta tambah lagi hingga mencapai angka 49 poin. Sang suami sebenarnya masih ingin melanjutkan pertandingan. Agaknya sang istri sudah kehabisan tenaga. Dengan tubuh yang sangat lelah, keringat yang membasahi seluruh badan, sang istri memeluk erat sang suami. Dengan penuh kemesraan sang istri membisikkan sesuatu di telinga suami. “Maaf ya Mas. Bukannya aku tidak sayang sama Mas. Tapi kalau terus-menerus begini, Yahudinya belum tentu terbunuh saya sudah mati duluan…,” bisik sang istri manja. Rupanya sang suami mengerti perasaan istrinya. Dia tersenyum sembari mencium lembut bibir sang istri. Pengantin baru itu pun tertidur pulas kelelahan…
Kisah di atas yang membuat saya tidak tenang. Soalnya Ibu sudah ngoyak-ngoyak saya untuk segera “membunuh” para Yahudi itu…he he he …jadi malu nih….
Solo, 24 Oktober 2008
Sabar adalah kata yang terlalu sering kita ucapkan dan terlalu sering pula kita dengar. Sabar sering kita ucapkan kepada orang lain manakala orang lain sedang dalam ujian menerima musibah. Nasihat kita sampaikan agar orang lain menerima musibah dengan lapang dada, tetap berada dalam kepasrahan kepada Allah seberat apapun ujian yang mereka terima. Nasihat yang sama juga sering kita terima kala kita sedang ditimpa musibah.
Sabar menurut Imam Ghozali adalah “memilih untuk melakukan perintah agama ketika desakan hawa nafsu datang.” Artinya kalau nafsu menuntut kita untuk berbuat sesuatu, tetapi kita memilih kepada yang dikehendaki Allah, maka di situ ada kesabaran. Tidak ada kesabaran, misalnya, kalau kita ini didesak oleh nafsu lalu memenuhi tuntutan nafsu itu (Jalaluddin Rahmat, 2002). Penelusuran yang saya lakukan di Alquran Digital (silakan dikoreksi kalau salah), kata sabar dijumpai pada 92 item dengan berbagai bentuk pengertian. Dari beberapa ayat bisa ditarik benang merah bahwa sabar selalu terkait dengan musibah, sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Sungguh, kami pasti akan terus menerus menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya). Merekah itulah yang mendapat banyak keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan (pendidik dan pemelihara) mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah : 155-157).
Dalam pengertian sehari-hari sering kita tidak pas dalam memaknai kesabaran. Seolah-olah sabar ada batasnya. Seorang kawan pernah bercerita kepada saya. Sewaktu dia mengalami demam, oleh dokter dia diminta melakukan check up darah di sebuah laboratorium. Petugas menjanjikan dalam waktu satu jam hasilnya bisa diketahui. Setelah satu jam berlalu, ternyata hasilnya ternyata belum jadi. Petugas laboratorium meminta agar ditunggu sebentar lagi. Setelah ditunggu-tunggu hingga dua jam, hasil pemeriksaan darah belum juga kelar. “Terus terang saya marah sama petugas. Bagaimanapun sabar itu ada batasnya,” begitu ceritanya kepada saya. Saya yakin kita pun sering mendengar pernyataan serupa dari orang lain. Atau jangan-jangan kita sendiri pun sering mengungkapkannya. Jika dikembalikan kepada makna sabar seperti di atas, sebenarnya kesabaran tidak ada batasnya. Kita sendiri yang justru membatasi kesabaran kita. Semakin berat apapun musibah yang kita terima, semarah apapun perasaan yang kita rasakan, sesulit apapun persoalan yang kita hadapi, maka semakin besar pula desakan untuk terus bersabar. Bukanlah Allah tidak akan menguji suatu kaum kecuali sesuai batas kemampuannya?
Seperti cerita kawan saya di atas. Ketika dia merasa dipermainkan petugas, membuat dia jengkel, dia memilih mengikuti hawa nafsunya untuk marah ketimbang menuruti perintah agama untuk terus menahan diri. Kalau kita mau jujur sebenarnya ujian yang dihadapi kawan saya tadi masih dalam batas kemampuannya. Dalih “sabar ada batasnya” seperti kawan saya tadi yang perlu dipertanyakan. Boleh jadi pernyataan itu sekadar untuk menutupi sikap ketidaksabarannya.
Jika Anda sedang diuji oleh Allah, jika Anda sedang menghadapi orang-orang menyebalkan, jika Anda dikhianati pacar Anda, jika Anda ditinggal selingkuh pasangan hidup hidup, apakah Anda juga akan mengatakan “sabar ada batasnya”? Kalau Anda menjawab “ya”, boleh jadi rahmat Allah sedang menjauhi diri Anda…
Solo, 07 Oktober 2008
Belum lama ini saya terlibat debat kusir dengan temen perempuan di kantor. Boleh jadi orang akan menertawakan kami karena kami mendebatkan soal relasi suami-istri, sesuatu yang berada di luar pengalaman kami. Namun, bagi saya itu tidak masalah. Meski sama-sama belum berkeluarga, toh tidak ada kaidah yang melarang untuk sekadar berwacana.
Sebenarnya saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi kawan saya itu ketika dia memimpikan laki-laki ideal yang kelak akan menjadi pendampingnya, serta bentuk relasi antarkeduanya setelah berkeluarga. Apapun pasangan yang dipilih, adalah hak yang meski dihormati.
Hal yang mengusik pikiran saya adalah ketika kawan saya itu mengemukakan bahwa calon suami yang diinginkan adalah orang yang bisa melindungi, lebih dewasa karena suami adalah kepala keluarga, pengambil keputusan, dan suami adalah sosok yang harus ditaati istri. Suami adalah pemberi nafkah sementara istri adalah penerima nafkah.
Yang sering membikin saya bertanya-tanya, kawan-kawan perempuan saya yang lain jika saya tanya soal yang sama, jawabnya pun relatif seragam. Seolah ada titik temu di alam pikiran kawan-kawan perempuan saya. Rata-rata mereka menginginkan suami yang lebih berumur, lebih dewasa, bisa membimbing, dan secara sosial-ekonomi lebih mampu.
Salahkah? Sejatinya tidak. Namun penggambaran suami seperti di atas sebenarnya justru tidak menguntungkan kaum perempuan. Bahasa yang digunakan kawan-kawan saya itu adalah bahasa kekuasaan yang tidak tidak egaliter. Dengan kriteria itu jelas menempatkan suami sebagai sosok yang lebih berkuasa. Suami superordinat dan istri subordinat. Kalau semua wanita menginginkan sosok pasangannya seperti itu, maka selama itu pula wanita tak akan pernah bisa berdaya. Perempuan dalam posisi tertindas. Bukankah para aktivis perempuan sering menuntut adanya kesetaraan?
Lebih baik
Karena masih belum mengerti, lantas saya bertanya lagi. Bagaimana kalau suami Anda ternyata moralitasnya lebih jelek dari Anda, apakah Anda juga akan tetap mentaatinya? Apakah Anda juga tetap menginginkan Anda bisa dibimbing suami? Bagaimana kalau leadership Anda lebih baik ketimbang suami, apakah Anda tetap menyerahkan kursi kepala keluarga kepada suami?, Bagaimana kalau dalam menyelesaikan masalah keluarga argumentasi Anda lebih bagus, apakah Anda tetap menyerahkan keputusan akhir kepada suami?. Kawan saya itu terlihat agak bingung. Setelah diam sejenak, akhirnya dia menjawab, “ya”. “Adalah naluri perempuan untuk selalu ingin dilindungi,” sambungnya lagi.
Dalam alam pikiran saya, interaksi suami-istri adalah relasi yang setara. Sebagai laki-laki saya tidak pernah merasa dilebihkan Tuhan ketimbang perempuan, dalam hal apapun. Tidak pas kiranya jika sebagai laki-laki menempati strata khusus ketimbang perempuan. Dihadapan Tuhan semua makhluk adalah sama. Hanya ketakwaannyalah yang mengangkat derajat seseorang di mata Sang Kholiq. Bahwa ada peran-peran khusus perempuan seperti hamil dan melahirkan, itu adalah fitrah Tuhan yang tidak bisa dibantah, dan peran itu memang tidak mungkin bisa digantikan laki-laki.
Di luar konteks itu, khususnya dalam ranah sosial, peran suami-istri sebenarnya bisa saling menggantikan, tergantung konteks dan realitas yang sedang dihadapi. Saya tidak sependapat dengan relasi aktif-pasif (”me- dan “di-), misalnya, tugas suami menafkahi dan istri dinafkahi. Dalam bayangan saya (karena baru bisa membayangkan…) kehidupan suami-istri adalah kehidupan untuk “saling”. Saling mentaati, saling memahami, saling membimbing, saling mengingatkan, saling menafkahi, saling menguatkan. Relasi kekuasaan sebenarnya tidak diperlukan lagi dalam lingkup keluarga.
Kaidah
Sehingga tuntutan agar istri selalu taat kepada suami juga tidak diperlukan. Bagi saya ketataan, loyalitas, itu sebenarnya bukan kepada “siapa”, melainkan kepada “apa”. Undzur ma qola, wa laa tandzur man qola. “Lihatlah apa yang dibicarakan, jangan melihat siapa yang bicara,” begitu kata Rasulullah. Kalau memang istri lebih benar, suami harus rela taat kepada istrinya. Adalah naif ketataan hanya dilandasi perbedaan jenis kelamin. Bukankah kebenaran bisa datang dari siapa saja?, begitu juga dengan ketidakbeneran?.
Dalam bahasa ekstrim saya katakan kepada kawan saya itu, jangankan kepada istri, dengan anak saya kalau memang anak saya benar, saya rela taat kepada anak saya. Bukankah Siti Khatijah, istri pertama Nabi Muhammad, secara sosial-ekonomi justru lebih kuat dari Muhammad? Saat menikah Siti Khatijah berumur 40 tahun, sementara Muhammad 25 tahun?, Khatijah seorang saudagar kaya raya, sementara Muhammad hanya pemuda biasa?
Kalau mau bicara jujur, potensi perempuan sekarang lebih lebih menonjol ketimbang laki-laki. Rekruitmen karyawan di perusahaan-perusahaan yang memenuhi syarat lolos umumnya kaum hawa. Belum lama ini saya dipercaya menjadi juri kontes da’i cilik di lingkungan kantor saya. Dari 6 orang pemenang, hanya satu orang dari kaum adam, lainnya perempuan. Dalam hal moral perempuan rata-rata bermoral “lebih bagus” daripada laki-laki.
Lihat saja di penjara, umumnya penghuninya laki-laki, sementara jumlah penduduk perempuan jauh lebih banyak. Ini menandakan potensi untuk menjadi orang “brengsek” itu lebih didominasi laki-laki. Lihatlah di ruang-ruang konsultasi psikologi di koran, majalah, televisi. Umumnya didominasi istri yang mengeluhkan kelakuan suaminya ketimbang suami yang mengeluhkan istrinya…Kalau faktanya seperti ini, mengapa logika itu tidak dibalik saja? Suami harus taat kepada istri????…
Sayangnya konstruksi sosial, budaya dan agama sampai saat ini tidak berpihak kepada kaum perempuan. Penafsir-penafsir kitab suci umumnya laki-laki sehingga hasil penafsirannya pun sering bias gender. Realitas sosial, budaya, dan agama ini memang sangat kuat di masyarakat kita. Kontruksi tersebut membentuk pola pikir bahwa perempuan dalam posisi lemah seolah-olah itu sudah fitrahnya, padahal sebenarnya sekadar mitos, realitas yang semu. Entah sadar atau tidak, konstruksi itu juga memengaruhi mind set (sebagian) kaum hawa dalam memandang dirinya sendiri…termasuk kawan saya itu…
Solo, 05 September 2008
Istilah orgasme tak hanya terkait soal seks. Pengertian orgasme sudah meluas. Seperti halnya onani, beberapa penulis menggunakannya untuk pengertian onani politik, onani spiritual, dan onani-onani yang lain. Orgasme, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah puncak kenikmatan seksual. Secara medis orang yang orgasme akan mengalami kontraksi otot yang menimbulkan sensasi luar biasa. Konon tak bisa dilukiskan dengan kata-kata apapun. Demikian halnya dengan orgasme kekuasaan. Sebuah sensasi seseorang yang tengah menikmati titik puncak kenikmatan saat berkuasa.
Meski dalam konteks berbeda, orgasme dalam pengertian seks dan kekuasaan punya ciri yang sama. Pelakunya sama-sama “lupa diri”. Orang yang mengalami orgasme secara seksual seringkali lupa tindakanya telah melanggar norma-norma hukum, sosial, dan agama. Lupa dirinya sudah berkeluarga. Lupa lawan mainnya adalah istri atau suami orang. Akal sehat dan nuraninya menjadi tumpul ketika hawa nafsu tengah menguasai dirinya. Hanya satu kata dalam benaknya : puasss…!
Saya sering mengamati dan menemukan orang-orang yang sedang mengalami orgasme kekuasaan. Biasanya mereka tengah dipercaya menduduki jabatan, entah jadi penguasa kelas kakap maupun kelas teri. Mereka menunjukkan perilaku yang sama. Orgasme kekuasaan biasanya dicirikan : belagu, sok kuasa, bossy, maunya menang sendiri, munafik, tak mau kalah, sok merasa paling benar, merasa paling suci, tidak konsisten, akal sehat dan nuraninya tumpul, raja tega, tak bisa berempati, suka menghukum tapi gak pernah kasih reward, mereka suka mencari posisi aman, tak mau ambil risiko dengan jabatannya. Kata teman saya, mereka juga suka mencari-cari masalah. Kalau tidak ada masalah mereka cenderung mempermasalahkah sesuatu yang sebenarnya bukan masalah. Mereka merasa mengada jika ada masalah. Saat itulah mereka bisa menunjukkan keangkuhannya.
Susah
Susah memang menghadapi orang-orang yang sedang berselingkuh dengan kekuasaan. Mau kasih nasihat, toh mereka tak mau mendengar. Dikasih pengertian mereka pun tak mau mengerti. Bisa-bisa kita yang akan kena batunya. Serba repot. Di mata mereka, benar dan tidak benar, salah dan tidak salah menjadi sangat tipis batasnya. Tergantung siapa yang melakukan dan siapa yang menilai. Orang benar bisa dianggap pengkhianat. Kebalikannya mereka yang sebenarnya busuk justru bisa jadi pahlawan…
Mereka tidak sadar, kekuasaan adalah amanah. Setiap amanah akan dipertanggungjawabkan baik terhadap sesama maupun kepada Tuhan. Dalam konteks agama kekuasaan mestinya bisa digunakan sebaik-baiknya untuk menebar kebaikan, menegakkan amar makruf nahi mungkar, lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Orang yang berkuasa sejatinya berada pada posisi strategis. Mereka punya kekuatan untuk berdakwah secara nyata (dakwah bil hal). Sayangnya sebagian besar penguasa tak menyadarinya. Saat kekuasaan di tangan tidak membuatnya lebih dekat kepada Allah, melainkan makin menjauh dari nilai-nilai kebenaran. Bukankah Allah meminta untuk menggunakan tangan (kekuasaan) guna melakukan perubahan? Bandingkan dengan orang yang tak berdaya. Jika melihat ketidakberesan, paling banter cuma bisa berdoa. Padahal itu adalah bentuk selemah-lemah iman…
Mereka tidak sadar kekuasaan bersifat sementara. Seolah-olah akan menjadi penguasa selamanya. Karenanya mereka cenderung bersifat arogan. Sepertinya tidak disadari suatu saat kelak kursi yang didudukinya akan diminta oleh mereka yang memberi amanah. Kalau ini terjadi, mereka baru tersadar. “Oh, ternyata saya tak lagi berkuasa”. Tak bisa lagi memerintah, tak ada lagi orang yang bisa dimarah-marahi, tak ada lagi yang takut kepadanya, tak ada lagi orang yang bisa dikorbankan, tak ada lagi orang yang bisa dicari-cari kesalahannya. Jadilah post power syndrome. Sebuah sindrom orang yang lengser jabatan namun seolah-olah masih berkuasa. Tak bisa menerima kenyataan. Biasanya banyak orang menakutinya, mentaati perintah-perintahnya, begitu perkasa. Namun, setelah lengser, semuanya tidak ada apa-apanya lagi…
Bagi kawan-kawan saya yang saat ini lagi berkuasa, ingatlah. Orgasme yang Anda rasakan tidak akan berlangsung selamanya. Suatu saat Anda pun akan mengalami impotensi kekuasaan…
Solo, 23 September 2008